BAB I
PENDAHULUAN
Dalam mempelajari psikologi yang tentu didalamnya mengandung seluk beluk kejiwaan. Penyelidikan tentang gejala-gejala kejiwaan itu sendiri mula-mula dilakukan oleh para pilsuf Yunani Kuno. Berkaitan dengan ilmu kejiwaan yang tentunya membahas segala yang berhubungan dengan kejiwaan, dalam hal ini juga ada hubungannya dengan proses penyesuaian diri, sebagai efect dari unsur kejiwaan atau kepribadian yang dimiliki oleh seseorang, apakah ia sukses dalam menyesuaikan diri atau malah sebaliknya.
Penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Begitu pentingnya hal ini sampai-sampai dalam berbagai literatur, kita kerap menjumpai ungkapan-ungkapan seperti” hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak lain adalah penyesuaian diri”entah itu dengan dirinya sendiri,orang lain dan juga lingkungan. Dalam lapangan psikologi pun, sering kita temui berbagai pernyataan para ahli yang menyebutkan bahwa”kelainan-kelainan kepribadian tidak lain adalah kelainan-kelainan penyesuaian diri”. Karena itu tidalah heran bila untuk menunjukan kelaianan-kelainan kepribadian seseorang, sering dikemukakan dengan istilah “maladjusment” yang artinya tidak ada penyesuaian” atau tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri. Jadi misalnya seorang anak yang mengalami hambatan-hambatan emosional sehingga ia menjadi nakal, anak itu sering disebut maladjusment child. Untuk lebih jelasnya, apakah seseorang mampu menyesuaikan diri dengan orang lain atau kelompok, Penulis akan memamparkan lebih jauh lagi dibagian pembahasan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penyesuaian Diri
Pengertian dari Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.
Menurut Musthafa fahmi, penyesuaian diri adalah satu proses dinamik terus menerus yang bertujuan untuk mengubah kelakuan guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dan lingkungan.
Adapun menurut pendapat yang lain, W.A Gerungan dalam buku psikologi sosialnya menjelaskan bahwa penyesuaian diri dapat berarrti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan(keinginan) diri.
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut dengan istilah adjusment. Adjustment itu sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.
B. Aspek-aspek Penyesuaian Diri
Pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Untuk lebih jelasnya kedua aspek tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
1. Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.
Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
2. Penyesuaian Sosial
Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.
Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam proses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.
Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.
C. Pembentukan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut mampu untuk menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.
Pada dasarnya penyesuaian diri melibatkan individu dengan lingkungannya, pada penulisan ini beberapa lingkungan yang dianggap dapat menciptakan penyesuaian diri yang cukup sehat bagi remaja, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Lingkungan Keluarga
Semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri akan menjadi lebih baik bila dalam keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti.
Rasa dekat dengan keluarga adalah salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang individu. Dalam prakteknya banyak orangtua yang mengetahui hal ini namun mengabaikannya dengan alasan mengejar karir dan mencari penghasilan yang besar demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menjamin masa depan anak-anak. Hal ini seringkali ditanggapi negatif oleh anak dengan merasa bahwa dirinya tidak disayangi, diremehkan bahkan dibenci. Bila hal tersebut terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang cukup panjang (terutama pada masa kanak-kanak) maka akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyesuaikan diri di kemudian hari. Meskipun bagi remaja hal ini kurang berpengaruh, karena remaja sudah lebih matang tingkat pemahamannya, namun tidak menutup kemungkinan pada beberapa remaja kondisi tersebut akan membuat dirinya tertekan, cemas dan stres.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas maka pemenuhan kebutuhan anak akan rasa kekeluargaan harus diperhatikan. Orang tua harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, pengawasan dan penjagaan pada anaknya; jangan semata-mata menyerahkannya pada pembantu. Jangan sampai semua urusan makan dan pakaian diserahkan pada orang lain karena hal demikian dapat membuat anak tidak memiliki rasa aman.
Lingkungan keluarga juga merupakan lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari melalui permainan, senda gurau, sandiwara dan pengalaman-pengalaman sehari-hari di dalam keluarga. Tidak diragukan lagi bahwa dorongan semangat dan persaingan antara anggota keluarga yang dilakukan secara sehat memiliki pengaruh yang penting dalam perkembangan kejiwaan seorang individu. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak dimengerti olehnya atau sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan olehnya, sebab hal tersebut memupuk rasa putus asa pada jiwa individu tersebut.
Dalam keluarga individu juga belajar agar tidak menjadi egois, ia diharapkan dapat berbagi dengan anggota keluarga yang lain. Individu belajar untuk menghargai hak orang lain dan cara penyesuaian diri dengan anggota keluarga, mulai orang tua, kakak, adik, kerabat maupun pembantu. Kemudian dalam lingkungan keluarga individu mempelajari dasar dari cara bergaul dengan orang lain, yang biasanya terjadi melalui pengamatan terhadap tingkah laku dan reaksi orang lain dalam berbagai keadaan. Biasanya yang menjadi acuan adalah tokoh orang tua atau seseorang yang menjadi idolanya. Oleh karena itu, orangtua pun dituntut untuk mampu menunjukkan sikap-sikap atau tindakan-tindkan yang mendukung hal tersebut.
Dalam hasil interaksi dengan keluarganya individu juga mempelajari sejumlah adat dan kebiasaan dalam makan, minum, berpakaian, cara berjalan, berbicara, duduk dan lain sebagainya. Selain itu dalam keluarga masih banyak hal lain yang sangat berperan dalam proses pembentukan kemampuan penyesuaian diri yang sehat, seperti rasa percaya pada orang lain atau diri sendiri, pengendalian rasa ketakutan, toleransi, kefanatikan, kerjasama, keeratan, kehangatan dan rasa aman karena semua hal tersebut akan berguna bagi masa depannya.
b. Lingkungan Teman Sebaya
Begitu pula dalam kehidupan pertemanan, pembentukan hubungan yang erat diantara kawan-kawan semakin penting pada masa remaja dibandingkan masa-masa lainnya. Suatu hal yang sulit bagi remaja menjauh dari temannya, individu mencurahkan kepada teman-temannya apa yang tersimpan di dalam hatinya, dari angan-angan, pemikiran dan perasaan. Ia mengungkapkan kepada mereka secara bebas tentang rencananya, cita-citanya dan dorongan-dorongannya. Dalam semua itu individu menemukan telinga yang mau mendengarkan apa yang dikatakannya dan hati yang terbuka untuk bersatu dengannya.
Dengan demikian pengertian yang diterima dari temanya akan membantu dirinya dalam penerimaan terhadap keadaan dirinya sendiri, ini sangat membantu diri individu dalam memahami pola-pola dan ciri-ciri yang menjadikan dirinya berbeda dari orang lain. Semakin mengerti ia akan dirinya maka individu akan semakin meningkat kebutuhannya untuk berusaha untuk menerima dirinya dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Dengan demikian ia akan menemukan cara penyesuaian diri yang tepat sessuai dengan potensi yang dimilikinya.
c. Lingkungan Sekolah
Sekolah mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan informasi saja, akan tetapi juga mencakup tanggungjawab pendidikan secara luas. Demikian pula dengan guru, tugasnya tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pendidik yang menjadi pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama dalam pembentukan kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
Pendidikan modern menuntut guru atau pendidik untuk mengamati perkembangan individu dan mampu menyusun sistem pendidikan sesuai dengan perkembangan tersebut. Dalam pengertian ini berarti proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut kepentingan perkembangan dan spiritual individu. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada cara kerja dan metode yang digunakan oleh pendidik dalam penyesuaian tersebut. Jadi disini peran guru sangat berperan penting dalam pembentukan kemampuan penyesuaian diri individu.
Pendidikan remaja hendaknya tidak didasarkan atas tekanan atau sejumlah bentuk kekerasan dan paksaan, karena pola pendidikan seperti itu hanya akan membawa kepada pertentangan antara orang dewasa dengan anak-anak sekolah. Jika para remaja merasa bahwa mereka disayangi dan diterima sebagai teman dalam proses pendidikan dan pengembangan mereka, maka tidak akan ada kesempatan untuk terjadi pertentangan antar generasi.
d. Lingkungan Alamiah
Maksudnya alam luar dan semua yang melingkungi individu yang vital dan alami, seperti pakaian, tempat tinggal, makanan dsb. Yang memang hal itu sangat mempengaruhi proses penyesuaian diri, jika orang tersebut tidak memiliki hal-hal yang tersebut diatas maka tidak akan terwujud proses penyesuaian diri.
e. Lingkungan Sosial dan Kebudayaan
Artinya adalah lingkungan masyarakat dimana individu itu hidup, termasuk adat kebiasaan. Ketika seseorang tinggal disuatu tempat tentu tempat tersebut memiliki adat kebudayaan atau norma yang harus di akui dan dipatuhi oleh masyarakatnya. Jika orang tersebut mampu menyesuaikan diri dengan baik pasti ia akan diterima dan merasa aman ditempat dimana ia tinggal, karena menyesuaikan diri dengan mematuhi aturan- aturan yang berlaku di daerahnya.
D. Bentuk- Bentuk Penyesuaian Diri
1. Yang Adaptive
Bentuk penyesuaian diri yang adaptive sering dikenal dengan istilah ”Adaptasi”. Bentuk penyesuaian diri ini lebih bersifat badani, artinya perubahan-perubahan dalam proses badani untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan.
Contoh:
-Berkeringat adalah usaha tubuh untuk mendinginkan tubuh dari suhu yang panasa/dirasa terlalu panas.
-Ditempat-tempat yang dingin, kita sebaiknay harus berpakaian tebal agar tubuh menjadi hangat.
Berkeringat dan berpakaina tebal merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan
Adapatbilitas(kemampuan untuk beradaptasi), merupakan kunci kemampuan bertahan dari semua species tumbuh-tumbuhan,binatang termasuk manusia. Darwin mengamati bahwa species yang mampu bertahan adalah yang mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan mereka.
Pada dasarnya proses penyesuaian diri itu terbentuk sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya, yang dituntut dari individu bukan hanya mengubah kelakuannya, tetapi ia juga dituntut untuk menyesuaikan diri dengan adanya oranglain dan macam-macam kegiatan mereka.
2. Yang Adjustive
Bentuk penyesuaian yang lain, yang tersangkut kehidupan psikis kita biasanya disebut bentuk penyesuaian yang adjiustive, misalnya jika kita harus pergi ketetangga/teman yang tengah berduka cita karena kematian salah satu keluarganya, mungkin sekalli wajah kita dapat diatur sedemikian rupa, sehingga menampilkan wajah duka, sebagai tanda menyesuaiakan terhadap suasana sedih.
E. Reaksi-Reaksi Penyesuaian Diri
Rasionalisasi (Rationalization)
Kompensasi (compensation)
Negativisme (negativism)
Kepasrahan (resignation)
Pelarian (flight)
Refresi (refression)
Kebodohan semu
(pseodostupidity)
Pemikiran Obsesif (Obsessive
thingking)
Pengalihan (Displacement)
Perubahan (conversion)
F. Mengapa kita Membutuhkan Penyesuaian Diri
Tampaknya sangat sesuai bagi masyarakat Barat, khususnya Amerika Serikat pada Seperempat abad ke-20, ketika kemampuan menyesuaiakan diri dengan kemampuan perubahan-perubahan besar dan cepat yang disebabkan expansi(perkawinan terbuka, perceeraian), ekonomi( situasi kerja), serta manusia hidup lebih lama dengan ketergantungan terhadap berbagai peralatan, dibandingkan dengan sebelumnya.
Kemampuan untuk menyesuaiakan diri terhadap perubahan-perubahan itu adalah suatu keharusan. Orang harus menyesuaikan gaya hidupnya sedemikian rupa sehingga dapat memanfaatkan/melindungi diri terhadap akibat dari perubahan-perubahan tersebut.
Ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh besar dalam menciptakan penyesuaian diri pada individu, diantaranya :
1. Pemuasan kebutuhan pokok dan kebutuhan pribadi
2. Hendaknyaada kebiasaan-kebiasaan dan ketrampilan yang dapat membantu dalam pemenuhan kebutuhan yang mendesak
3. Hendaknya dapat menerima dirinya
4. Penyesuaian dan persesuaian
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Memang harus kita akui bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses yang sulit, pertama, banyak kesulitan dalam menyesuaikan diri bersumber pada diri kita sendiri.Kedua, pengaruh-pengaruh yang ikut membentuk kepribadian kita, terutama pengaruh lingkungan( keluarga,teman sebaya, sekolah,alamiah, dan sosbud) yang dengan pengaruh-pengaruh tersebut dapat membentuk kepribadian yang mampu menyesuaikan diri dimana pun kita berada. Ketiga, usaha-usaha kita unutk memenuhi keperluan dalam dan tuntutan luar dari lingkungan itu harus sesuai dengan tujuan hidup kita.
Jadi Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
- www.zainun mutadin, Spsi.com
- Hartati,Netty.Islam Dan Psikologi.2004.Jakarta: PT.Raja GrafindoPersada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar